Tampilkan postingan dengan label Financial Management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Financial Management. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2012

An Overview of Financial Management

|0 komentar
1. Pendahuluan
Manajemen keuangan merupakan salah satu bidang manajemen fungsional dalam suatu perusahaan, yang mempelajari tentang penggunaan dana, memperoleh dana dan pembagian hasil operasi perusahaan Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer keuangan. Meskipun tugas dan tanggung jawabnya berlainan di setiap perusahaan, tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi : keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian dividen suatu perusahaan (Weston dan Copeland, 1992: 2) Manajer keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva dan pemilihan sumber-sumber dana untuk membelanjai aktiva-aktiva tersebut. Untuk membelanjai kebutuhan dana tersebut, manajer keuangan dapat memenuhinya dari sumber yang berasal dari luar perusahaan dan dapat juga yang berasal dari dalam perusahaan. Sumber dari luar perusahaan berasal dari pasar modal, yaitu pertemuan antara pihak membutuhkan dana dan pihak yang dapat menyediakan dana. Dana yang berasal dari pasar modal ini dapat berbentuk hutang (obligasi) atau modal sendiri (saham). Sumber dari dalam perusahaan berasal dari penyisihan laba perusahaan (laba ditahan), cadangan, maupun depresiasi.

Setelah dana diperoleh, dana tersebut harus digunakan untuk membelanjai operasi perusahaan. Dana akan tertanam pada berbagai kekayaan riil perusahaan, baik kekayaan yang berwujud atau pun yang tidak berwujud. Sedangkan sumber-sumber dana perusahaan, baik kekayaan yang berwujud atau pun yang tidak berwujud. Sedangkan sumber-sumber dana perusahaan akan diwujudkan dalam berbagai aktiva finansial, yaitu selembar kertas yang mempunyai nilai pasar, karena dengan memiliki kertas tersebut, pemilik dapat memperoleh penghasilan (baik yang tetap, atau pun tidak tetap). Besar kecilnya dana yang harus diperoleh oleh manajer keuangan tentu saja harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk operasi perusahaan itu. Penggunaan dana untuk operasi perusahaan dapat digunakan untuk keperluan yang sangat bermacam-macam. Tetapi kalau dipandang dari dimensi waktunya, maka penggunaan dana tersebut dapat untuk modal kerja (jangka pendek) dapat juga untuk investasi modal (jangka panjang). Setelah dana tersebut dipergunakan, maka diharapkan perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari penggunaan dana tersebut. Apabila perusahaan memperoleh keuntungan maka harus diputuskan apakah keuntungan ini akan dibagikan kepada pemilik modal ataukah diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan.

Dengan demikian maka manajer keuangan intinya harus melakukan tugas-tugas utama (fungsi) yaitu: memperoleh dana dan menggunakan dana tersebut. Untuk memperoleh dana, ia harus mengambil keputusan pembelanjaan, yaitu mencari dana dari pasar modal (dalam bentuk hutang maupun modal sendiri/saham). Di samping itu, dana juga dapat diperoleh dari hasil operasi perusahaan. Besar kecilnya dana ini tergantung pada kebijakan dividen, yaitu penentuan besar-kecilnya keuntungan yang harus dibagi (dan ditahan). Semakin banyak yang ditahan, semakin banyak dana yang diperoleh dari dalam perusahaan. Untuk fungsi menggunakan dana, manajer keuangan harus mengambil keputusan investasi yaitu penentuan untuk apa dana yang dimiliki oleh perusahaan akan dipergunakan.

Kegiatan penting lain yang harus dilakukan manajer keuangan menyangkut empat (4) aspek yaitu:
  1. Dalam perencanaan dan peramalan, dimana manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lain yang ikut bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
  2. Manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
  3. Manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lain di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin
  4. Menyangkut penggunaan pasar uang dan pasar modal, manajer keuangan menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, di mana dana dapat diperoleh dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
Dari ke empat aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas pokok manajer keuangan berkaitan dengan keputusan investasi dan pembiayaannya. Dalam menjalankan fungsinya, tugas manajer keuangan berkaitan langsung dengan keputusan pokok perusahaan dan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2. Fungsi dan Tanggung Jawab Manajer Keuangan
Manajer Keuangan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap apa yang telah dilakukannya. Ada pun keputusan keuangan yang menjadi tanggung jawab manajer keuangan dikelompokkan ke dalam tiga (3) jenis :
  1. Mengambil keputusan investasi (investment decision). Menyangkut masalah pemilihan investasi yang diinginkan dari sekolompok kesempatan yang ada, memilih satu atau lebih alternatif investasi yang dinilai paling menguntungkan.
  2. Mengambil keputusan pembelanjaan (financing decision). Menyangkut masalah pemilihan berbagai bentuk sumber dana yang tersedia untuk melakukan investasi, memilih satu atau lebih alternatif pembelanjaan yang menimbulkan biaya paling murah.
  3. Mengambil keputusan dividen (dividend decision). Menyangkut masalah penentuan besarnya persentase dari laba yang akan dibayarkan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham, stabilitas pembayaran dividen, pembagian saham dividen dan pembelian kembali saham-saham.
Keputusan-keputusan tersebut harus diambil dalam kerangka tujuan yang seharusnya dipergunakan oleh perusahaan yaitu memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan adalah harga yang terbentuk seandainya perusahaan dijual. Apabila perusahaan “go public” maka nilai perusahaan ini akan dicerminkan oleh harga saham perusahaan tersebut. Dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka pemilik perusahaan menjadi lebih makmur sehingga mereka menjadi lebih senang.

3. Tujuan dari Manajemen Keuangan (The Main Objective of Financial Management)
Tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau memaksimumkan nilai perusahaan, bukan memaksimumkan profit. Arti memaksimumkan profit, berarti mengabaikan tanggung jawab social, mengabaikan risiko, dan berorientasi jangka pendek. Sedangkan arti memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau nilai perusahaan sebagai berikut:
  1. Berarti memaksimumkan nilai sekarang (present value) semua keuntungan di masa datang yang akan diterima oleh pemilik perusahaan.
  2. Berarti lebih menekankan pada aliran hasil bukan sekedar laba bersih dalam pengertian akuntansi.
Kelebihan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan/kemakmuran pemegang saham adalah secara konseptual jelas sebagai pedoman di dalam pengambilan keputusan yang memprtimbangkan faktor risiko. Dalam pencapaian tujuan tersebut, manajemen keuangan harus dapat menyeimbangkan kepentingan pemilik, kreditor, dan pihak lain yang berkaitan dengan perusahaan.

Memaksimumkan kemakmuran pemegang saham/pemilik perusahaan tidak mengingkari adanya social objectives dan kewajiban sosial. Tanggung jawab social adalah satu aspek penting dari tujuan perusahaan, maksudnya:
  1. Keberhasilan memaksimumkan nilai perusahaan akan memberikan sumbangan yang berarti kepada lingkungan sosial secara keseluruhan.
  2. Pengaruh (dampak) lingkungan eksternal seperti polusi, keselamatan kerja, keamanan produk juga harus diperhitungkan.
  3. Kepekaan terhadap faktor eksternal merupakan salah satu syarat penting agar perusahaan tetap dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
  4. Perusahaan harus dapat memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dalam kendala legal dan sosial dan bertanggung jawab terhadap perubahan lingkungan.
4. Lingkungan Keuangan

Aspek lingkungan yang penting dipahami para manajer keuangan adalah sector keuangan di bidang perekonomian, yang terdiri dari pasar keuangan (financial markets), lembaga keuangan (financial institutions) dan instrumen keuangan (financial instruments).
  1. Pasar keuangan, menunjukkan pertemuan antara permintaan dan penawaran akan aktiva finansial (financial asset) atau sering disebut sebagai sekurities. Sekurities adalah secarik kertas (surat) yang mempunyai nilai pasar karena surat tersebut menunjukkan klaim atas aktiva riil perusahaan (misalnya mesin-mesin, pabrik, bahan baku, barang dagangan, merek dagang, dan lain-lain.)
  2. Lembaga keuangan yaitu lembaga yang berperan sebagai lembaga intermediary (financial intermediation) dengan mempertemukan unit surplus dengan unit defisit. Contoh lembaga keuangan dalam sistem moneter adalah Bank sentral, Bank pencipta uang giral/bank umum. Lembaga keuangan dan di luar system moneter (bank bukan pencipta uang giral/BPR), lembaga pembiayaan, perusahaan asuransi, dana pensiun, lembaga di bidang pasar modal, dan lain-lain.
  3. Instrumen Keuangan, contohnya adalah uang, saham, hutang, dan surat berharga di pasar uang dan pasar modal lainnya. 
5. Masalah Keagenan
Yang disebut masalah keagenan atau Agency Problem adalah konflik yang timbul antara pemilik, karyawan, dan manajer perusahaan di mana ada kecenderungan manajer lebih mementingkan tujuan individu daripada tujuan perusahaan. Agency problem muncul terutama apabila perusahaan menghasilkan free cash flows yang sangat besar (Jensen, 1992, dalam Agus Sartono, 1998). Free cash flows adalah aliran kas bersih yang tidak dapat diinvestasikan kembali karena tidak tersedia kesempatan investasi yang profitable.

Masalah keagenan dapat timbul antara:
  1. Pemegang saham dengan manajer (sering terjadinya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer, sehingga untuk meminimalisasinya pemilik biasanya memberikan fasilitas yang bagus dan kadang juga berupa saham kepada manajer,agar manajer bertindak seperti sebagai pemegang saham)
  2. Manajer dengan kreditor (misalnya, ketika perusahaan sudah dalam keadaan pailit, dan kreditor menginginkan perusahaan dilikuidasi, tapi manajer masih berusaha untuk mempertahankan perusahaan dan berusaha untuk memperbaikinya)
  3. Manajer, pemegang saham dan kreditor dalam kasus perusahaan menghadapi kesulitan keuangan
Dalam upaya meminimumkan agency problem diperlukan biaya yang disebut agency costs dan tercermin dalam empat alternatif:
  1. Pengeluaran untuk monitoring seperti halnya biaya untuk pemeriksaan akuntansi dan prosedur pengendalian intern.
  2. Pengeluaran insentif sebagai kompensasi untuk manajemen atas prestasi yang konsisten memaksimumkan nilai perusahaan. Bentuk insentif yang umum adalah stock option yaitu pemberian hak kepada manajemen untuk membeli saham perusahaan di masa yang akan datang dengan harga yang telah ditentukan.
  3. Bentuk yang kedua adalah performance shares yaitu pemberian saham kepada manajemen atas pencapaian tujuan –pencapaian tingkat return tertentu. Bentuk insentif lain adalah cash bonus atau bonus kas yang dikaitkan dengan pencapaian tujuan tertentu.
  4. Fidelity bond adalah kontrak antara perusahaan dengan pihak ketiga di mana pihak ketiga –bonding company – setuju untuk membayar perusahaan jika manajer berbuat tidak jujur sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan.Golden parachetus dan poison pill dapat dipergunakan pula untuk mengurangi konflik antara manajemen dan pemegang saham. Golden parachutes adalah suatu kontrak antara manajemen dan pemegang saham yang menjamin bahwa manajemen akan mendapat kompensasi sejumlah tertentu apabila perusahaan dibeli oleh perusahaan lain atau terjadi perubahan pengendalian perusahaan. Poison pill adalah usaha pemegang saham untuk menjaga agar perusahaan tidak diambil alih oleh perusahaan lain.


The Financing Decision

|0 komentar
Perusahaan dalam mencapai tujuan yang diinginkan membutuhkan sumber pembiayaan yang dapat diperoleh melalui pembiayaan internal dan pembiayaan eksternal. Keputusan pendanaan perusahaan akan berpengaruh terhadap kondisi struktur modal perusahaan yang merupakan bauran sumber pendanaan permanen. Pemilihan jenis pendanaan mempunyai pengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan investasi perusahaan, dimana pada setiap sumber pendanaan ada biaya yang harus ditanggung. Biaya ini menjadi pertimbangan atas tingkat pengembalian yang diharapkan dari kegiatan investasi termasuk risiko dari investasi. Jenis pendanaan yang banyak digunakan untuk kegiatan investasi perusahaan adalah modal dari pemilik (owners), pinjaman dari bank, obligasi dan saham. Kombinasi struktur modal yang optimal akan meningkatkan nilai perusahaan. Dalam struktur modal menawarkan dua teori yang penting dan saling terkait yaitu Static Trade-off Theory, dan Pecking Order Theory.
Static trade-off (STO) menyatakan bahwa target tingkat hutang (leverage) yang optimal mempertimbangkan biaya dan manfaat yang diterima dengan menggunakan hutang dalam keputusan investasi. Struktur modal optimal dicapai dengan men-trade off tax shield dengan biaya financial distress dalam berbagai tingkatan hutang yang dilakukan. Teori ini dikeluarkan oleh Modigliani dan Miller yang dikenal dengan Preposisi I dan II. Pecking order theory (POT) oleh Myers (1984), menyatakan bahwa penggunaan sumber pendanaan oleh perusahaan dilakukan dengan urutan pendanaan internal (laba ditahan) untuk kegiatan investasinya dan pendanaan eksternal jika sumber internal tidak mencukupi. Untuk pendanaan eksternal yang akan dipilih pertama kali adalah hutang kemudian saham jika masih belum mencukupi. Pemilihan ini juga dikaitkan dengan biaya atas sumber pendanaan dari mulai yang termurah hingga termahal. Di lain pihak, hipotesa lain yang dikenal dengan pecking order theory (POT) menyarankan bahwa keputusan financing mengikuti suatu hirarki dimana sumber pendanaan dari dalam perusahaan (internal financing) lebih didahulukan daripada sumber pendanaan dari luar perusahaan (external financing).
Dalam hal perusahaan menggunakan pendanaan dari luar, pinjaman (debt) lebih diutamakan daripada pendanaan dengan tambahan modal dari pemegang saham baru (external equity). Perusahaan mempunyai hak untuk menentukan kapan penerbitan saham dan obligasi tersebut dilakukan setelah izin prinsip dari otoritas berwenang diperoleh. Keputusan perusahaan untuk menerbitkan obligasi dipengaruhi oleh harga pasar. Obligasi dapat diperdagangkan (jual/beli) dengan harga yang lebih rendah dari nilai nominalnya (at premium) jika kondisi pasar sedang marak (bullish), atau sebaliknya lebih rendah dari nilai nominalnya (at discount) jika kondisi pasar sedang lesu (bearish). Disisi lain obligasi berbeda dengan saham karena secara umum harus memberikan bunga/kupon dalam jumlah tertentu kepada investor secara berskala, kecuali untuk zero coupon bonds. Perusahaan diuntungkan jika kupon yang harus dibayar nilainya rendah atau bahkan lebih rendah dari suku bunga kredit bank sebagai substitusi sumber pembiayaan. Graham dan Harvey (2001) menemukan bahwa penerbitan obligasi perusahaan lebih banyak terjadi pasa saat suku bunga relatif rendah. Kemudian Barry et. al (2009) juga menemukan bahwa terjadi peningkatan jumlah penerbitan obligasi pada saat suku bunga sedang dalam tren penurunan atau lebih rendah dari periode sebelumnya. Keputusan untuk menerbitkan obligasi juga dapat dilandasi oleh keyakinan bahwa suku bunga akan mengalami peningkatan.
Pada penelitian sebelumnya beberapa peneliti mencoba membandingkan kekuatan eksplanasi dari masing-masing teori STO dan POT dalam konteks yang sama mulai banyak dilakukan, diantaranya adalah Fama dan French (2002), Frank dan Goyal (2003), dan Flannery dan Rangan (2006). Selanjutnya riset semacam itu yang menggabungkan kedua teori itu dalam satu framework model dalam kebijakan financing perusahaan secara simultan pada konteks yang sama, merupakan wahana yang belum banyak dilakukan dan sangat menarik untuk dieksplorasi seperti yang dilakukan Dang, 2006; Frank dan Goyal, 2003; Shyam-Sunder dan Myers,1999.
Kemudian penelitian mengenai sumber pembiayaan perusahaan khususnya pembiayaan eksternal (obligasi) dalam konteks yang sama tetapi menggunakan model yang berbeda seperti yang dilakukan oleh Argawal dan Mohtadi mengenai perkembangan pasar modal terhadap struktur modal perusahaan. Argawal dan Mohtadi (2004) menyatakan bahwa sektor perbankan lebih dominan memanfaatkan instrument hutang, sedangkan sektor non perbankan lebih terdorong penggunaan intrumen saham untuk pembiayaan perusahaan. hal ini dikarenakan sektor perbankan lebih berkembang dibanding pasar modal, sehingga struktur pembiayaan dari eksternal perusahaan didominasi oleh kredit bank, hanya sebahagian kecil perusahaan yang menerbitkan saham. Dalam penelitian Argawal dan Mohtadi perkembangan pasar modal diproksikan dengan nilai kapitalisasi pasar. Penelitian serupa sebelumnya juga dilakukan oleh Demirguc-Kunt dan Maksomovic (1995) yang menyatakan bahwa pengembangan pasar modal secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap peningkatan leverage perusahaan, khususnya perusahaan besar, karena debt-equity bersifat komplementer.
Referensi :
Argawal, Sumit dan Mohtadi, Hamid (2004). Financial markets and financing choice of firms: Evidence from developing countries. Global Finance Journal, Vol. 15, hal. 57-70
Barry, C.B., Mann, S.C., Mihov, V., dan Rodriguez, M. (2009). Interest rates and the timing of corporate debt issues. Journal of Banking and Finance, Vol. 33, Issue No. 4, hal. 600-608
Dang, V. A. (2006), “Testing the Trade-off and Pecking Order Theories: A Dynamic Panel Framework”, Working Paper, University of Leeds, U.K.
Fama, Eugene F dan Kenneth R. French, (2002). "The Equity Premium," Journal of Finance, American Finance Association, vol. 57(2), pages 637-659, 04.
Flannery, M. J. dan K. P. Rangan. (2006), “Partial Adjustment toward Target CapitalStructures”, Journal of Financial Economics

Frank, M.Z. dan V. K. Goyal. (2003), “Testing the Pecking Order Theory of Capital Structure”, Journal of Financial Economics, 67, pp. 217-248
Graham, John R. dan Harvey, Campbell R. (2001). The theory and practice of corporate finance: Evidence from the field. Journal of Financial Economics, Vol. 60, hal. 1-28
Myers, Stewart C. (1984). The Capital Structure Puzzle, Journal of Finance, Vol. 39, Hal. 575-595
Ozkan, A. (2001). ”Determinants of Capital Structure and Adjustment to Long Run Target: Evidence from UK Company Panel Data”, Journal of Business Finance dan Accounting, 28, pp. 175-198
Shyam-Sunder, L. dan S. Myers. (1999), “Testing Static Trade-off against Pecking Order Models of Capital Structure”, Journal of Financial Economics, 51, pp.219-244

Currency Converter